Dokumenter sering dianggap sebagai rekaman dari ‘aktualitas’ atau potongan rekaman sewaktu kejadian sebenarnya berlangsung, saat orang yang terlibat di dalamnya berbicara, spontanitas, kehidupan nyata apa adanya, dan tanpa ada media perantara. Walaupun unsur – unsur tersebut terkadang menjadi bahan utama dalam pembuatan dokumenter, namun unsur-unsur itu jarang menjadi bagian dari keseluruhan film dokumenter itu sendiri. karena semua bahan tersebut harus diatur, diolah dan ditata struktur penyajiannya kembali.Terkadang para pembuat film documenter harus mengambil berbagai pilihan dalam pengambilan gambar sebelumnya untuk menentukan sudut pandang, ukuran shot (type of shot), pencahayaan dll agar dapat mencapai hasil akhir yang mereka inginkan.
Kebanyakan penonton film/ video dokumenter di layar kaca sudah terbiasa dengan berbagai cara, gaya, dan bentuk-bentuk penyajian yang selama ini umum digunakan dalam berbagai acara siaran televisi. Sehingga mereka tak lagi mempertanyakan lebih jauh tentang isi dari dokumenter tersebut. Contoh : penonton sering menyaksikan dokumenter yang dipandu oleh suara (voice over) seorang penutur cerita (narator), wawancara, saksi mata dalam suatu kejadian dan pendapat masyarakat, Demikian pula dengan suasana tempat kejadian yang terlihat nyata, potongan-potongan gambar kejadian langsung dan bahan-bahan yang berasal dari arsip yang ditemukan. Semua unsur khas tersebut memiliki sejarah dan tempat tertentu dalam perkembangan dan perluasan dokumenter sebagai suatu bentuk sinematik.
Ini penting ditekankan, karena --dalam berbagai hal-- bentuk dokumenter sering diabaikan dan kurang dianggap di kalangan film seni, seakan-akan dokumenter cenderung menjadi bersifat ‘pemberitaan’ (jurnalistik) dalam dunia pertelevisian. Bukti-bukti menunjukkan bahwa, bagaimanapun, dengan pesatnya perkembangan film/ video dokumenter dalam bentuk pemberitaan, ada kecenderungan kuat di kalangan para pembuat film dokumenter akhir-akhir ini untuk mengarah kembali ke arah pendekatan yang lebih sinematik. Dan, kini, perdebatannya berpindah pada segi estetik. Pengertian tentang ‘kebenaran’ dan ‘keaslian’ suatu film dokumenter mulai dipertanyakan, diputarbalikkan, dan diubah, mengacu pada pendekatan segi estetik film dokumenter dan film-film non-fiksi lainnya. jenis-jenis film yang dipandang sebagai documenter dan dengan jelas memiliki ide dan kode etik tentang dokumenter yang sama memiliki Kategori-kategori tersebut adalah:
film faktual
film etnografik
film eksplorasi
film propaganda
cinéma-vérité
direct cinema
documenter
Perkembangan Dokumenter dan genre-nya saat ini sudah sangat pesat dan beragam , tapi ada beberapa unsur yang tetap dan penggunaanya yakni unsur – unsure visual dan verbal yang biasa digunakan dalam dokumeter.
Unsur Visual:
Observasionalisme reaktif; pembuatan film dokumenter dengan bahan yang sebisa mungkin diambil langsung dari subyek yang difilmkan. Hal ini berhubungan dengan ketepatan pengamatan oleh pengarah kamera atau sutradara.
Observasionalisme proaktif; pembuatan film dokumenter dengan memilih materi film secara khusus sehubungan dengan pengamatan sebelumnya oleh pengarah kamera atau sutradara.
Mode ilustratif; pendekatan terhadap dokumenter yang berusaha menggambarkan secara langsung tentang apa yang dikatakan oleh narator (yang direkam suaranya sebagai voice over).
Mode asosiatif; pendekatan dalam film dokumenter yang berusaha menggunakan potongan-potongan gambar dengan berbagai cara. Dengan demikian, diharapkan arti metafora dan simbolis yang ada pada informasi harafiah dalam film itu, dapat terwakili.
Selasa, 16 Juni 2009
Langganan:
Posting Komentar (Atom)

Tidak ada komentar:
Posting Komentar